The Rum Diary: Jurnalis dan Alkohol

Film The Rum Diary mengangkat cerita berdasarkan novel autobiografi berjudul The Rum Diary karya Hunter S. Thompson. Meskipun dirilis pada tahun 2011, film ini memberi kesan menarik bagi saya. Terutama tema yang diangkatnya tentang jurnalistik.

Film ini mengisahkan seorang pemuda asal New York, Paul Kemp (diperankan Johnny Depp). Pada tahun 1960an, ia terbang menuju Puerto Rico untuk mengambil pekerjaan sebagai wartawan di harian lokal, San Juan Star. Lotterman (Richard Jenkins), sang pemimpin redaksi memberinya pekerjaan untuk menulis tentang wisata dan kesenangan yang ditawarkan oleh Puerto Rico. Sebagai tambahan, Kemp juga ditugaskan untuk menulis kolom horoskop yang terbit setiap hari Sabtu. Sesuatu yang sebenarnya tak dikuasai oleh Kemp.

Kemp berjumpa dengan juru foto, Bob Sala (Michael Rispoli). Mereka kemudian akrab dan menjalin pertemanan. Keduanya sama-sama gemar mabuk. Hingga Kemp harus meninggalkan hotel akibat tagihannya yang membengkak karena terlalu banyak minum alkohol. Ia akhirnya menyewa ruangan di flat milik Sala. Sala pulalah yang memberi tahu Kemp bahwa keadaan San Juan Star sedang menuju kebangkrutan.

Saat berada di perpustakaan, ia juga berjumpa dengan Hal Sanderson (Aaron Eckhart), seorang konsultan public relation yang juga seorang makelar. Sanderson memiliki ketertarikan terhadap gaya penulisan Kemp. Suatu hari, Kemp akan diajak kerja sama dalam proyek pembangunan hotel di sebuah pulau.

Kemp menulis terlalu sinis, begitu ungkap Lotterman. Pembaca hanya ingin membaca suatu yang menyenangkan tentang tempat boling dan kasino. Pembaca tak akan peduli dengan penderitaan warga lokal yang hanya menjadi penonton atas kemegahan hotel-hotel di pinggir pantai San Juan.

Puerto Rico adalah sebuah pulau di lautan Karibia. Sejak direbut dari tangan Spanyol, Puerto Rico menjadi bagian negara persemakmuran Amerika Serikat. Puerto Rico dipimpin oleh gubernur yang ditunjuk langsung oleh presiden Amerika Serikat. Situasi diskriminatif yang dialami oleh bangsa kulit berwarna, menciptakan dualisme di antara masyarakat Puerto Rico. Warga lokal yang hidup miskin dan terdiskriminasi ini menganggap dirinya bukan bagian dari Amerika Serikat.

Terletak di laut Karibia, pulau ini merupakan surga bagi pelancong. Kebanyakan pelancong berasal dari Amerika Serikat. Mereka banyak menghabiskan waktu di hotel yang memiliki akses langsung keindahan pantai, arena boling, dan kasino. Turis merasa tak aman jika harus berkeliaran di kota. Sebabnya warga lokal tak begitu menyukai kulit putih.

Pada bagian awal film ini sikap Paul Kemp terlihat ambigu. Di satu sisi, ia tertarik dan ingin membela warga lokal yang didiskriminasi. Di sisi lain, ia ikut bekerja dalam proyek Sanderson untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dari kekayaan alam Puerto Rico. Memang, keterlibatan Kemp dalam proyek Sanderson ini karena hutang budi. Sanderson menjamin penangguhan atas penahanan Kemp dan Sala yang terlibat dalam perkelahian dengan warga lokal dan menyerang seorang polisi.

Pertemanan Kemp dan Sanderson juga telah memberikan kemewahan bagi Kemp. Selain itu juga membuat Kemp dapat mengenal lebih dekat dengan Chenault (Amber Heard), tunangan Sanderson. Kemp jatuh cinta pada Chenault sejak pertama kali berjumpa, saat Chenault sedang berenang tanpa pakaian di pantai.

Setelah peristiwa di karnaval, ketika Sanderson berkelahi di bar dengan warga lokal, hubungan Sanderson dan Kemp menjadi renggang. Perkelahian itu disebabkan Chenault yang berdansa dengan seorang pemuda lokal. Sanderson, Kemp, dan Sala diusir dari bar. Sementara Chenault tetap berada di sana. Hingga pagi menjelang, Chenault tak dapat ditemukan.

Kemp menyerahkan naskah hasil liputannya tentang karnaval. Selain itu juga ia menuliskan laporan tentang kelicikan Sanderson. Di saat inilah, sikap Kemp mulai terlihat dengan cukup jelas. Bahwa seorang jurnalis harus mengabarkan kebenaran dan membangun opini yang mencerahkan bagi masyarakat. Hal yang ditolak oleh Lotterman. Bahwa tulisan Kemp hanya akan menambah masalah di korannya yang selangkah lagi menuju kebangkrutan.

Lotterman kabur bersama uang kas yang tersisa. Tentu situasi yang menyulitkan bagi para pekerja San Juan Star. Selain harus kehilangan pekerjaan, mereka juga tak akan mendapat pesangon. Kemp dengan semangat yang tinggi menginisiasi rekan-rekannya untuk menyerang balik Lotterman dan Sanderson. Ia mengusulkan untuk menerbitkan satu nomor yang berisi kebobrokan Lotterman dan Sanderson. Hanya Moburg dan Sala yang sepakat dengan usulan Kemp. Sementara yang lainnya terlihat sudah menyerah dan pesimis. Sebab, untuk menerbitkan koran, setidaknya mereka harus memiliki uang sekitar dua ribu dolar.

Kemp dan Sala akhirnya mengikuti judi sabung ayam untuk mendapat uang tersebut. Sementara Moburg mendapat tugas untuk mengumpulkan orang agar mau diajak kerja sama. Kemp dan Sala berhasil mendapatkan uang yang dibutuhkan. Tapi mereka hanya bertiga. Tak ada lagi orang yang mau membantu. Semua mesin cetak sudah disita.

Di akhir cerita, Kemp mencuri kapal Sanderson dan meninggalkan Puerto Rico. Tak jelas bagaimana kelanjutan dari perlawanan Kemp. Terdapat penjelasan bahwa Kemp kembali ke New York dan menikahi Chenault di sana. Ia menjadi seorang jurnalis yang terkenal karena kritis terhadap kapitalisme.

Saya sangat menyayangkan film ini tak menunjukkan bagaimana perlawanan Kemp. Barangkali ini bukan sebuah film kepahlawanan. Barangkali film ini hanya ingin memperlihatkan sisi lain dari Kemp yang gemar mabuk. Atau barangkali saya yang terlalu berharap lebih bahwa film ini dapat mewujudkan kepahlawanan Kemp sebagi seorang jurnalis yang berpihak.

Navigation